Wednesday, June 13, 2012

Panah setan tak pernah meleset

Assalaamu alaikum warahmatullaahi wabarkaatuhu
Apa kabar sahabatku, semoga kalian pagi ini tetap dalam kenikmatan taat kepada Allah... Aamiin.
Ketahuilah sahabatku, Rasulullah mengingatkan bahwa, "Panah syetan yang jarang meleset adalah syahwat berzina", "Sungguh setiap Bani Adam pasti diuji dengan zina tanpa terkecuali, mata berzina dengan melihat (porno), tangan berzina dengan meraba (onani), pikiran berzina dengan berkhayal, mulut berzina dengan perkataan jorok, kemaluan berzina dengan zina sebenarnya".

Tetaplah bersabar, jangan tergoda, jangan berduaan dengan bukan mahram, sibukkan dengan aktivitas bermanfaat, perkuat zikir, sholawat, wudhu, puasa sunnah, bersahabat, berkumpul dengan orang sholeh dan hadirilah majelis ilmu dan zikir.

"Ya Allah cabutlah pada diri kami keinginan berbuat maksiat dan selamatkan kami dari godaan syetan yang terkutuk... Aamiin".
READ MORE - Panah setan tak pernah meleset

Monday, June 11, 2012

Injil Barnabas

REPUBLIKA.CO.ID,ANKARA --
Deden Mauli Darajat (Kontributor Rol di Ankara, Turki)

Perdebatan tentang kitab yang disimpan di museum etnogari Turki memang belum selesai. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki masih meneliti dan menerjemahkan isi kitab tersebut di Laboratorium Pusat Bahasa Turki untuk memeriksa keaslian Injil Barnabas itu. Siapakah Barnabas itu?

Barnabas lahir di Siprus sebagai Yusuf. Barnabas adalah termasuk orang yang pertama menganut keyakinan yang dibawa oleh Yesus atau Nabi Isa yang kemudian dinamai rasul. Kisahnya muncul dalam Kisah Para Rasul. Paulus menyebutnya dalam beberapa suratnya.

Namun, tradisi Kristen menyatakan ia menjadi martir di Salamis, Siprus. Dia secara tradisional diidentifikasi sebagai pendiri Gereja Siprus, dengan hari pestanya pada 11 Juni.

Dalam tradisi itu, Yesus menyangkal menjadi Mesias (juru penyelamat) dan mengklaim bahwa ia akan menjadi Ismael, istilah yang digunakan untuk orang Arab. Alkitab ditulis oleh Barnabas sehingga sebagian besar waktunya dicurahkan untuk menulis pesan Yesus.

Sebelum ditemukan kitab di Turki, memang ada dua Injil Barnabas sebagai manuskrip kitab yang dibuat pada abad ke-16 dalam bahasa Italia dan Spanyol. Umat Kristen memang tidak mengakui Injil Barnabas karena Barnabas dianggap tak pernah menulis kitab apa pun.

Secara umum sangat tidak selaras dengan laporan yang juga ditemukan dalam Injil-Injil karena Injil Barnabas bukanlah manuskrip yang ditulis para rasul Yesus seperti Injil Kanonik. Dalam batas tertentu, kitab ini mengikuti penafsiran Islam tentang asal-usul Kristen.

Komunitas Kristen Suriah mengklaim kepemilikan Injil kuno yang ditemukan otoritas Turki pada 2000 lalu itu. Komunitas itu telah mengirim surat resmi kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Er tugrul Gunay, untuk mengembalikan kitab suci itu kepada mereka.

Kepala Budaya Komunitas Kristen Suriah, Sabo Hanna, mengatakan Alkitab bersejarah memiliki makna material yang besar bagi Kristiani. “Jika Turki tidak menyerahkannya, kami meminta Turki membuka akses bersama dengan membangun museum di Distrik Midyat, Suriah,” kata Sabo kepada Hurriyet Daily News.

Komunitas Kristen Suriah ini adalah penganut Kristen ortodok di wilayah Arab. Mereka tersebar dari Lebanon, Suriah, hingga perbatasan Turki. Penganut Kristen ini telah menggunakan bahasa Aramik sejak awal berdirinya gereja mereka. “Banyak biara pada awal Kristen di wilayah Suriah di tenggara Turki telah dijarah oleh Turabidin. Karena itu, kami minta agar Injil kuno itu dikembalikan,” ujar Sabo Hanna.

Kelompok Kristen Suriah ini telah menyebar hingga Eropa. Kurang lebih delapan perwakilan komunitas ini ada di Eropa. Mereka juga menyebar di Asia Kecil dengan kitab teks Yunani dan bahasa Aram. Namun, belum dilakukan penelitian secara mendalam apakah Injil ini benar memiliki keterkaitan dengan Kristen Suriah. Secara geografis, letak negara Siprus tempat kelahiran Barnabas berada di Selatan Turki yang dipisahkan Laut Mediterania.

Sedangkan Suriah, juga berdekatan dengan Siprus yang dipisahkan laut pembatas benua Afrika, Asia, dan Eropa itu. Polisi Turki menggerebek kelompok penyelundup benda purbakala di Turki Selatan, 12 tahun lalu. Mereka hendak membawa sebuah kitab ke Ankara. Kitab itu langsung dimasukkan ke brankas kantor Pengadilan Tinggi Turki.

Injil kuno yang diperkirakan berusia 1.500 tahun menjadi perhatian setelah dipublikasikan Pemerintah Turki. Kontroversi muncul karena isi Injil ini meyakini Yesus sebagai nabi. Injil ini memprediksi kedatangan Muhammad SAW setelah Yesus.

Jika benar bahwa kitab ini merupakan Injil Barnabas, ramalan rahib Buhaira saat Muhammad SAW kecil ada hubungannya. Saat itu, Muhammad SAW berusia 12 tahun. Abu Thalib, sang paman, hendak melakukan ekspedisi niaga dari Makkah ke Syam (Suriah).

Saat tiba di sebuah tempat pertapaan di Bushra, antara Syam dan Hijaz, mereka bertemu dengan Buhaira. Sang rahib takjub menyaksikan Muhammad. Sebab, awan selalu bergerak memayungi kemanapun Muhammad melangkah. Buhaira memeriksa tubuh Muhammad untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kitab-kitab suci.

Ia akhirnya menemukan tanda kenabian di punggung Muhammad, di antara kedua pundaknya. Ia lalu mencium tanda itu. Sang rahib pun berpesan agar Abu Thalib menjaga keponakannya itu karena dia adalah calon rasul yang dinantikan. Prediksi Buhaira dari Kota Bushra itu menjadi kenyataan. Ketika menginjak usia 40 tahun, Muhammad memperoleh wahyu saat menyendiri di Gua Hira. Muhammad menjadi rasul penutup bagi umat manusia.
READ MORE - Injil Barnabas

Wednesday, May 30, 2012

Thierry Henry masuk Islam

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Bagi Thierry Henry, Islam adalah sebuah pilihan. Karena itu ketika memutuskan berpindah keyakinan dan menjadi mualaf, dia merasa bahwa selalu sangat dekat dengan Islam.
"Saya menganggap Islam sebagai pilihan terbaik untuk saya jika saya ingin percaya pada sebuah agama," kata striker New York Red Bulls tersebut.

Menurut Henry, menjadi seorang Muslim itu tidak boleh setengah-setengah. "Aku mengikuti semua apa yang diajarkan oleh Alquran. Ini sebabnya saya anggap Islam yang paling dekat dengan hati saya."

Legenda Arsenal ini menyatakan, Islam mengajarkan umatnya bahwa seseorang harus percaya dulu terhadap Alquran. Ini sebabnya dia belum menyatakan Islam sebagai agamanya, tapi Henry mengerti agama ini lebih daripada agama lain. "Dan itu benar-benar menyedihkan bahwa banyak orang tidak meluangkan waktu untuk mencoba memahami Islam."

Penyerang Les Bleus Prancis yang sukses meraih Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 ini menekankan, jika seseorang benar-benar percaya kepada Allah maka sudah seharusnya setiap Muslim harus menjadi orang yang taat. "Kalau percaya ajaran Islam, seseorang harus percaya pada Alquran dan Rasul terakhir," ujar Henry
READ MORE - Thierry Henry masuk Islam

Tuesday, May 29, 2012

Makna tulisan salam "Ass"


Ucapan ”Assalamu’alaikum”, السلام عليكم, merupakan anjuran agama, dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendo’akan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR Muslim dari Abi Hurairah]
Saya seringkali menerima sms atau e-mail dari beberapa kawan dan juga beberapa ustadz yang mengawali salamnya dengan singkatan. Singkatannya pun macam-macam. Ada yang singkat seperti "Asw" atau "Aslm". Ada yang sedikit lebih panjang seperti ; “Ass Wr Wb” atau “Aslmwrwb” . Namun yang sering saya dapatkan, adalah singkatan "Ass". Singkatan terakhir ini paling umum dan paling sering digunakan. Bagi saya, ini adalah singkatan yang tidak enak untuk dibaca, terlebih kalau mengerti artinya.

Marilah kita simak singkatan ini. Dalam kamus linguistik yang saya punya, arti dari kata Ass yang berasal dari bahasa Inggris itu adalah sebagai berikut;

“Ass” berarti: Pertama, kb. (animal) yang artinya keledai. Kedua, orang yang bodoh. Don't be a silly (Janganlah sebodoh itu). Dan ketiga, Vlug (pantat).

Padahal seperti kita ketahui ucapan Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh adalah sebuah ucapan salam sekaligus doa yang kita tujukan kepada orang lain. Ucapan salam dalam Islam sesungguhnya merupakan do’a seorang Muslim terhadap saudara Muslim yang lain. Maka, apabila kita mengucap salam dengan hanya menuliskan "Ass", secara tidak sadar mungkin kita malah mendoakan hal yang buruk terhadap saudara kita.

Kita paham, mungkin banyak orang diantara kita cukup sibuk dan ingin cepat buru-buru menulis pesan. Barangkali, singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan. Karena itu, penulis menyarankan, jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS dengan kalimat lengkap karena sedang menyetir di jalan, misalnya, solusinya cukup mudah adalah menulis pesan to the point saja. Tulislah “met pagi, met siang, met malam dan seterusnya. Ini masih lebih baik dibandingkan kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari doa keselamatan Assalamu'alaikum menjadi "Ass" (pantat).

Jangan sampai awalnya kita ingin menyampaikan doa keselamatan yang terjadi justeru sebaliknya, mendoakan keburukan. Kalau boleh saya mengistilahkah, niat baik ingin berdoa, jadinya malah ucapan kotor.

Ucapan salam adalah ucapan penghormatan dan doa. Apabila kita dihormati dengan suatu penghormatan maka seharusnya kita membalas dengan sebuah penghormatan pula yang lebih baik, atau minimal, balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.

Hasa saja, kalau kita mengganti ucapan kalimat salam arti awalnya sangat mulia, maka, yang terjadi adalah sebaliknya, salah dan bisa-bisa menjadi umpatan kotor.

Karena itu, jika tidak berhati-hati, mengganggati ucapan Assalamu’alaikum (Semoga sejahtera atasmu) dengan menyingkatnya menjadi “Ass” (pantat), ini mirip dengan mengganti doa yang baik dengan mengganti dengan bahasa jalanan orang Jakarta, yang artinya kira-kira, berubah arti menjadi (maaf) “Pantat Lu!”

Singkatan ala Rasulullah
Meski nampak sederhana, ucapan salam sudah diatur oleh agama kita (Islam). Ucapan Assalamu alaikum السلام عليكم dalam Bahasa Arab, digunakan oleh kaum Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, intinya untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Mengucapkan salam, hukumnya adalah sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Itulah agama kita.

Sebelum Islam datang, orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan salam yang lain, seperti Hayakallah. Artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup. Namun ketika Islam datang, ucapan itu diganti menjadi Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa.

Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan, bahwa salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti "Semoga Allah menjadi Pelindungmu".

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasul bersabda, “Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Allah). Apakah kamu maujika aku tunjukkanpada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu!” (HR. Muslim)

Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)

Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani)

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86. Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik.

Bedanya agama kita dengan agama lain, setiap Muslim ketika mengucapkan salam kepada saudaranya, dia akan diganjar dengan kebaikan (pahala).

Dalam kaidah singkat menyingkat pun sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasulullah. Dalam suatu pertemuan bersama Rasulullah SAW, seorang sahabat datang dan melewati beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan,” ujar beliau.

Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain. Ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullah.” Kata Rasulullah SAW, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah wa baraokatuh.” Rasulullah pun bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” [HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah].

Nah dari tiga singkatan itu silahkanAnda pilih yang mana yang Anda inginkan tanpa harus menyingkatnya sendiri yang justru bisa menghilangkan nilai pahalanya. Tentu saja, jangan Anda lupakan, tiga singkatan itu sudah rumus dari Nabi yang dipilihkan untuk kita.

Satu hal lagi yang perlu diingat adalah ketika kita menuliskan kata Assalamu'alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf L nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu'alaikum.

Karena apa ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan "Assaamu 'alaika ya Muhammad" (Semoga kematian dilimpahkan kepadamu).

Dan kata assaamu ini artinya kematian. Kata ini adalah plesetan dari "Assalaamu 'alaikum". Maka nabi berkata, "Kalau orang kafir mengatakan padamu assaamu 'alaikum, maka jawablah dengan wa 'alaikum (Dan semoga atas kalian pula)." [HR. Bukhari]

Tulisan ini, mungkin nampak sederhana. Meski sederhana, dampaknya cukup besar. Boleh jadi, kita belum pernah membayangkannya selama ini. Nah, setelah ini, sebaiknya alangkah lebih baik jika memulai kembali menyempurnakan salam kepada saudara kita. Tapi andaikata memang kondisi tak memungkinkan, sebaiknya, pilihlah singkatan yang sudah dipilihkan Nabi kita Muhammad SAW tadi. Mungkin Anda agak capek sedikit tidak apa-apa, sementara sedikit capek, 30 pahala kebaikan telah kita kantongi.
READ MORE - Makna tulisan salam "Ass"

Monday, May 28, 2012

Ritual sebelum wirid

baca :
Ta'awud, basmallah
Alfatehah 1x, untuk membuka komunikasi dengan Allah
Subhana wabi hamdih, subhana hil adim 1x
Istigfar 3x
Syahadat 3x
Sholawat 7x
 Basmallah
Surat Al Luqman ayat 10 (QS 31:10)
http://www.flickr.com/photos/26262651@N06/7284826300/
tutup dengan Doa snediri
READ MORE - Ritual sebelum wirid

Sunday, March 28, 2010

Dosa Istri yang Durhaka

Allah Ta’ala berfirman, “Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka, hendaklah kalian menasehati mereka atau pisahkan mereka dari tempat tidur, atau pukullah mereka. Dan jika mereka sudah kembali taat kepada kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk menyakiti) mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. An-Nisa’: 34)

Al-Wahidi rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan dengan ‘nusyuz’ pada ayat diatas adalah kedurhakaan terhadap suami, yakni merasa lebih tinggi dihadapan suaminya disaat terjadi perselisihan.”

Atha’ berkata, “Maksudnya adalah seorang istri yang mengenakan wewangian dihadapan (suami)nya, namun tidak mau ‘dikumpuli’, serta berubah sikap dan ketaatan yang dulu pernah dilakukannya.”

Maksud firman-Nya (yang artinya), “Hendaklah kalian menasehati mereka,” yaitu nasehatilah mereka dengan kitab Allah dan ingatkanlah akan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka (para istri).

Ibnu Abbas menafsirkan ayat (yang artinya) “Atau pisahkan mereka dari tempat tidur,” yakni dengan membelakanginya dan tidak mengajaknya berbicara. Sedangkan Sya’bi dan Mujahid menafsirkan dengan cara meninggalkan tempat tidurnya dan tidak menggaulinya.

Tafsir ayat (yang artinya) “Atau pukullah mereka,” yakni memukulnya dengan pukulan yang tidak membahayakannya.

Sedangkan maksud firman-Nya (yang artinya) “Jika mereka menaati kalian,” adalah janganlah kalian (suami) mencari-cari alasan untuk menyakiti mereka (istri).

Seorang istri memiliki kewajiban yang besar untuk patuh kepada suaminya. Kepatuhan ini tentu tidak berlaku jika seorang suami memerintahkan istrinya untuk bermaksiat kepada Allah, sebab tidak ada kepatuhan terhadap perintah manusia dalam berbuat maksiat kepada Allah.

Jika seorang istri yang patuh kepada suaminya akan memperoleh keutamaan pahala yang besar, maka sebaliknya, istri yang durhaka kepada suaminya akan mendapat ganjaran dosa dan laknat baik dari Allah maupun makhluk-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, lalu ia menolak datang, (maka) malaikat melaknatnya hingga pagi hari.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Jika pada malam hari seorang istri meninggalkan tempat tidur suaminya dan menolak ajakannya, maka penduduk langit marah kepadanya hingga suaminya rela kepadanya.” (HR. Nasa’i)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga orang yang tidak diterima shalatnya, dan kebaikannya tidak diangkat kelangit: budak yang melarikan diri dari tuan-tuannya hingga ia kembali kepada mereka dan meletakkan tangannya pada mereka (menyerah dan taat); seorang istri yang dimarahi suaminya hingga ia ridha kepadanya; dan orang yang mabuk hingga siuman.” (HR. Thabrani dan Ibnu Khuzaimah)

Sudah seharusnya seorang istri berusaha untuk taat dan menunaikan kewajibannya terhadap suaminya. Begitu besarnya hak suami terhadap istrinya, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika aku diperbolehkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, pastilah aku akan menyuruh seorang wanita bersujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi)

Seorang bibi dari Hushain bin Muhsin bercerita perihal suaminya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Rasulullah berkata kepadanya, “Lihatlah kedudukanmu dihadapannya, ia adalah surga dan nerakamu.” (HR. Nasa’i)

Seorang istri wajib meminta ridha suaminya dan menjaga dirinya dari kemarahannya, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang wanita meninggal dunia, sedangkan suaminya ridha kepadanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

Oleh karena itu, seorang istri berhati-hati dari kedurhakaan terhadap suaminya, karena kedurhakaannya bisa mengantarkannya kedalam neraka. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku melihat neraka, dan aku dapatkan ternyata sebagian besar penghuninya adalah wanita.”

Hal itu disebabkan karena kurangnya ketaatan istri kepada Allah, Rasul-Nya, dan suami mereka. Selain itu, para istri itu pun sering ber-tabarruj (memamerkan dandanannya kepada orang lain). Tabarruj artinya seorang istri keluar dari rumahnya dengan mengenakan pakaian terbaiknya dan berdandan, serta bersolek hingga membuat orang-orang terfitnah oleh penampilannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia, (melainkan) istrinya yang lain dari bidadari berkata, ‘Janganlah menyakitinya, semoga Allah membunuhmu.’” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)

(Imam Adz-Dzahabi. 2008. Al-Kabair, Galaksi Dosa terjemah: Asfuri Bahri. Jakarta: Darul Falah)

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx Artikel yang Lain xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Istri Yang Di Anggap Durhaka Kepada Suami

Apakah Anda termasuk Istri yang dianggap durhaka? apakah istri Anda termasuk istri yang dianggap durhaka kepada suami?

Apabila dipanggil oleh suaminya ia tidak datang.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:“Apabila suami memanggil isterinya ke tempat tidur. ia tidak datang nescaya malaikat melaknat isteri itu sampai Subuh.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Membantah suruhan atau perintah suami.
Sabda Rasulullah SAW: ‘Siapa saja yang tidak berbakti kepada suaminya maka ia mendapat laknat dan Allah dan malaikat serta semua manusia.”

Bermuka masam terhadap suami.
Sabda Rasulullah SAW: “Siapa saja perempuan yang bermuka masam di hadapan suaminya berarti ia dalam kemurkaan Allah sampai ia senyum kepada suaminya atau ia meminta keredhaannya.”

Jahat lidah atau mulut pada suami.
Sabda Rasulullah SAW: “Dan ada empat golongan wanita yang akan dimasukkan ke dalai Neraka (diantaranya) ialah wanita yang kotor atau jahat lidahnya terhadap suaminya.”

Membebankan suami dengan permintaan yang diluar kemampuannya.

Keluar rumah tanpa izin suaminya.
Sabda Rasulullah SAW: “Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya dia akan dilaknat oleh Allah sampai dia kembali kepada suaminya atau suaminya redha terhadapnya.” (Riwayat Al Khatib)

Berhias ketika suaminya tidak disampingnya.
Maksud firman Allah: “Janganlah mereka (perempuan-perempuan) menampakkan perhiasannya melainkan untuk suaminya.” (An Nur 31)

Menghina pengorbanan suaminya.
Maksud Hadis Rasulullah SAW: “Allah tidak akan memandang (benci) siapa saja perempuan yang tidak berterima kasih di atas pengorbanan suaminya sedangkan dia masih memerlukan suaminya.”

Mengijinkan masuk orang yang tidak diijinkan suaminya ke rumah
maksud Hadis: “Jangan ijinkan masuk ke rumahnya melainkan yang diijinkan A suaminya.” (Riwayat Tarmizi)

Tidak mau menerima petunjuk suaminya.
Maksud Hadis: “Isteri yang durhaka hukumnya berdosa dan dapat gugur nafkahnya ketika itu. Jika ia tidak segera bertaubat dan memint ampun dari suaminya, Nerakalah tempatnya di Akhirat kelak. Apa yang isteri buat untuk suami adalah semata-mata untuk mendapat keredhaan Allah SWT”

(http://suryaningsih.wordpress.com)
READ MORE - Dosa Istri yang Durhaka

Friday, January 22, 2010

Akhirnya.....

Di suatu masa.....
Saat aku masih tenggelam dalam arus duniawi
Yang tak peduli akan nasib diri
Tak lagi takut akan adzab yang sedang menanti
Terombang-ambing mencari jati diri

Kelalaian-kelalaian terus kulakukan
Kesia-siaan menjadi rutinitas harian
Syariat-Mu ku remehkan
Perintah-Mu ku abaikan
Larangan-Mu tak kuhiraukan

Hingga kemurahan-Mu menghampiriku
Engkau angkat aku dari jurang kebodohan
Engkau kenalkan aku dengan indahnya ilmu
Engkau rengkuh aku dalam nikmatnya hidayah-Mu
Hingga sempat kucicipi manisnya iman
Kelezatan tak terkira dalam cinta-Mu

Ya Rabbi.....
Dengan tergopoh aku berlari menuju pintu-Mu
Dengan berurai air mata kumengemis ampunan-Mu
Dengan hati yang hancur kubersimpuh di hadapan-Mu

Ya Allah....
Ampuni aku yang telah terlena
Terbuai rasa aman yang melalaikan
Tertipu oleh secuil dunia yang melenakan
Hingga dosa-dosa kembali kuremehkan
Syukur semakin jarang kusenandungkan
Doa tak lagi jadi kidung di setiap malam

Ya Allah....
Kini kusadar telah menuai buahnya
Lantunan ayat suci tak lagi menyentuh hati
Untaian nasehat taklagi menggugah jiwa
Dzikir tak lagi penggetar hati
Bila diri telah merasa suci
Tak ada lagi kemuliaan yang dimiliki

Ya Ilahi....
Tak kutemukan jalan selain jalan-Mu
Tak kulihat pilihan kecuali kembali pada-Mu
Tunduk terhina di hadapan-Mu
READ MORE - Akhirnya.....

Wednesday, January 6, 2010

Calon penghuni surga

Suatu ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya duduk di masjid menunggu datangnya shalat Ashar. Tiba-tiba beliau bersabda, “Tak lama lagi akan datang calon penghuni surga.”
Mendengar itu, Anas bin Malik sangat penasaran dan ingin megetahui siapa yang dimaksud. Tak lama kemudian masuklah seorang pria berpenampilan sederhana. Dari janggutnya masih menetes bekas wudhu. Sesampai di masjid ia shalat Tahiyatul Masjid. Ketika waktu Ashar tiba, pria itupun ikut shalat berjamaah.

Keesokan harinya, di waktu yang sama, Rasulullah kembali mengulang sabdanya, “Segera akan datang seorang pria calon penghuni surga.” Ternyata sosok yang dimaksud adalah pria tersebut. Rasulullah SAW bersabda kembali tiga hari berturut-turut. Dan yang dimaksdudnya pria itu juga.

Peristiwa itu tak hanya membuat Anas binMalik jadi penasaran, tapi juga sangat menarik perhatian Abdullah bin Umar. Sehingga iapun sangat berkeinginan untuk mengetahui keistimewaan apa yang dimilikinya.

Selepas Isya’, Abdullahn bin Umar sengaja membuntuti pria itu sampai mendekati rumahnya yang berada di gang sempit. Aksi Abdullah bin Umar itupun diketahui olehnya, kemudian iapun menegurnya. “Aku lihat sejak dari masjid engkau mengikutiku. Kini aku sudah sampai ke dekat rumahku engkau masih juga membuntutiku. Apa maksudmu hai anak muda?”

Mendengar teguran itu, Abdullah menjawab, “Maafkan aku paman. Apakah aku boleh menumpang tidur di rumah paman?”

“Untuk bermalam di rumahku tidak masalah. Hanya saja rumahku sangat sederhana. Aku khawatir orang tuamu akan marah, karena engkau tidak pulang,” jawab pria itu.

“Aku sudah biasa di rumah yang sederhana. Orang tuaku tak akan marah sebab aku sering tidak tidur di rumah,” kata Abdullah.

Pria itu berkata,”Kebiasan tidur di luar rumah tidak baik. Tetapi aku tak mungkin membiarkanmu tidur di jalanan.”

Keduanya masuk ke dalam rumah sederhana itu. Ia juga menunjukkan tempat tidur untuk bermalam yang memang sangat sederhana.

Abdullah bin Umar sengaja tak tidur semalaman. Ia menyaksikan pria itu bangun melaksanakan qiyamul Lail. Seusai shalat ia tidur dan bangun menjelang Subuh. Bersama Abdullah berangkat bekerja sebagai tukang batu. Sorenya pria itu ke masjid dan malamnya pulang bersama Abdullah bin Umar. Hal itu berlangsung selama tiga hari.

Malam terakhir, Abdullah berkata, ”Maafkan aku paman aku sengaja menginap di rumah paman, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, bahwa paman calon penghuni Surga. Jadi aku sangat ingin tahu apa keistimewaan paman sehingga mendapat jaminan seperti itu?”

Pria itupun berkata,” Aku tidak beramal sesuatu yang lebih dari kebiasaanku sebagaimana yang engkau lihat. Aku hanya istiqomah melaksanakan kewajibanku tepat pada waktunya. Aku tidak menyakiti seorang manusia pun. Dan aku tidak pernah iri hati terhadap sesuatu nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.”

Abdullah bin Umar pun merasa puas atas jawaban itu dan mengucapkan terima kasih.


Semoga kita dapat mencontohnya, amin amin Ya Allah Ya Rabbil Alamin
READ MORE - Calon penghuni surga

Monday, December 14, 2009

Kelebihan dan Kekurangan Iblis

Bismillahirrahmanirrahim,, Alhamdulillah wasyukrulillah,,Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammad, wa’alaa alihii waash-habihii ajma’iin,, Amma ba’du, Saya memohon kepada Allah SWT, semoga kita semua dihindarkan dari godaan Iblis La’natullah ‘alaih beserta balatentaranya, Amin

Dikisahkan Dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas :

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba – tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? sebab kalian akan membutuhkanku. “
Rasulullah bersabda:”Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan, “itu iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”
Nabi menahannya:”Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. di janggutnya terdapa 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.

Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad,… . salam untukmu para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
“Siapa yang memaksamu? “
“Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”
oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

Orang Yang Dibenci Iblis

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab: ” Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?”

“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”

“lalu siapa lagi?”

“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)“

” Lalu siapa lagi?”

“Orang yang selalu bersuci.”

“Siapa lagi?”

“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.”

“apa tanda kesabarannya?”

” Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang – orang yang sabar.”

“Selanjutnya apa?”

“Orang kaya yang bersyukur.”
“apa tanda kesyukurannya ?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya .”

“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”
“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”

“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur. “

“Usman bin Affan?”
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya .”

“Ali bin Abi Thalib?”
” Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis

“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”
“aku merasa panas dingin dan gemetar. “
” Kenapa?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”

“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka .”

” Jika ia berhaji?”
” Aku seperti orang gila. “

“Jika ia membaca al-Quran?”
“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”

” Jika ia bersedekah?”
“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”
“mengapa bisa begitu? “
“sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”

” apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”
“suara kuda perang di jalan Allah.”

“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”
“taubat orang yang bertaubat.”

” apa yang dapat membakar hatimu?”
” istighfar di waktu siang dan malam.”

“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”
“sedekah yang diam – diam. “

“Apa yang dapat menusuk matamu?”
“Shalat fajar.”

“Apa yang dapat memukul kepalamu? “
“Shalat berjamaah .”

“Apa yang paling mengganggumu?”
“Majelis para ulama.”

” bagaimana cara makanmu?”
“dengan tangan kiri dan jariku.”

“dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”
“di bawah kuku manusia.”

Manusia Yang Menjadi Teman Iblis

Nabi lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai Iblis?”
“Pemakan riba.”

“Siapa sahabatmu?”
“Pezina.”

“Siapa teman tidurmu?”
“Pemabuk..”

“Siapa tamumu? “
“Pencuri.”

“Siapa utusanmu?”
“Tukang sihir.”

“Apa yang membuatmu gembira?”
“Bersumpah dengan cerai.”

” Siapa kekasihmu? “
” Orangyang meninggalkan shalat jumaat“

“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu? “
“orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”

Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas

Rasulullah SAW lalu bersabda : “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”

Iblis segera menimpali:” tidak , tidak… tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir..
Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku.
Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua.
Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”

“Siapa orang yang ikhlas menurutmu ?”

“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjunang, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”

Iblis Dibantu oleh 70.000 Anak – Anaknya

Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.

Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak – anak muda, sebagian untuk menganggu orang – orang tua, sebagian untuk menggangu wanta – wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.

Aku punya anak ynag suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.

aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.

Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.

Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.

Syaithan juga berkata,”keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.

mereka, anak – anakku seleu meyusup dan berubah ari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.

Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.

Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.

Cara Iblis Menggoda

Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?

Akulah mahluk pertama yang berdusta.

Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.

Tahukah kau Muhammad?

Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar – benar menasihatinya.

Sumpah dusta adalah kegemaranku.

Ghibah (gosip) dan Namimah(Adu domba) kesenanganku.

Kesaksian palsu kegembiraanku. ..

Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka hnaya karena satu kalimat, CERAI.

Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun menoleh. pada saat iatu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ’shalatmu tidak sah’

Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.

Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.

jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.

Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.

Dan iapun semakin taat padaku.

Kebahagiaan apa untukmu, sedanga aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, ‘kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.’

Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.

Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.

Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?”

10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT

“berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?”
“10 macam”
“apa saja?”

“aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, “berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)

Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. akujuga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.

Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.

aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.

aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.

aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.

Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.

Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.

Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.
Allah berfirman, “Orang – orang bros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27)

Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.

Allah menjawab, “silahkan”, aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
Iblis berkata : “wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.”

jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun.
sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.
jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini.
kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.

Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.

Rasulullah SAW lalu membaca ayat :”mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT ” (QS Hud :118 – 119)
juga membaca, ” Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)

Iblis lalu berkata: ” wahai Rasul Allah takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin pendudk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk – mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.”
READ MORE - Kelebihan dan Kekurangan Iblis

Wednesday, December 9, 2009

HARI-HARI YANG DILARANG UNTUK BERPUASA

Hari-hari yang dilarang puasa meliputi sebagai berikut.

1. Dua Hari Raya

Para ulama telah sepakat (ijma') atas haramnya berpuasa pada kedua hari raya, baik puasa fardu maupun puasa sunnah, berdasakan hadis Umar ra, "Sesungguhnya Rasulullah saw melarang puasa pada kedua hari ini. Adapun hari raya Idul fitri, ia merupakan hari berbuka dari puasamu, sedang hari raya Idul adha maka makanlah hasil kurbanmu." (HR Ahmad dan imam empat)

2. Hari-Hari Tasyriq

Haram berpuasa pada hari-hari tasyriq, yaitu tiga hari berturut-turut setelah hari raya Idul adha (tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijah), berdasakan riwayat Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah mengutus Abdullah bin Hudzaifah berkeliling kota Mina untuk menyampaikan, Janganlah kamu berpuasa pada hari ini karena ia merupakan hari makan minum dan berzikir kepada Allah." (HR Ahmad dengan sanad yang jayyid).

3. Berpuasa pada Hari Jumat secara Khusus

Hari Jumat merupakan hari raya mingguan bagi umat Islam. Oleh sebab itu, agama melarang berpuasa pada hari itu. Akan tetapi, jumhur (sebagian besar ulama) berpendapat bahwa larangan itu berarti makruh,bukan menunjukkan haram, kecuali jika seseorang berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya atau sesuai dengan kebiasaannya atau secara kebetulan bertepatan pada hari Arafah (9 Dzulhijah) atau hari Asyura (10 Muharam), maka tidaklah makruh berpuasa pada hari Jumat itu.

Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah saw masuk ke rumah Juwairiyah binti Harits pada hari Jumat sedang ia sedang berpuasa. Lalu Nabi bertanya kepadanya, "Apakah engkau berpuasa kemarin?" Dia menjawab, "Tidak", dan besok apakah engkau bermaksud ingin berpuasa? "Tidak," jawabnya. Kemudian Nabi bertanya lagi, dia menjawab tidak pula. "Kalau begitu, berbukalah sekarang!" (HR Ahmad dan Nasa'i dengan sanad yang jayyid).

Diriwayatkan pula dai Amir al-Asy'ari, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya hariJumat itu merupakan hari rayamu, karena itu janganlah kamu berpuasa pada hari itu, kecuali jika kamu berpuasa sebelum atau sesudahnya!" (HR al-Bazar dengan sanad yang hasan).

Ali ra berpesan: "Siapa yang hendak melakukan perbuatan sunnah di antaramu, hendaklah ia berpuasa pada hari Kamis dan jangan berpuasa pada hari Jumat, karena ia merupakan hari makan dan minum serta zikir." HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang hasan.

Menurut riwayat Bukhari dan Muslim yang diterima dari Jabir ra bahwa Nabi saw bersabda, "Janganlah kamu berpuasa pada hari Jumat, kecuali jika disertai oleh satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya." Dan menurut lafal Muslim: "Janganlah kamu mengkhususkan malam Jumat di antara malam-malam itu buat bangun beribadah, dan jangan kamu khususkan hari Jumat itu di antara hari-hari lain untuk berpuasa, kecuali bila bertepatan dengan puasa yang dilakukan oleh salah seorang di antaramu!"

4. Berpuasa pada Hari Sabtu secara Khusus

Larangan berpuasa pada hari ini didasarkan pada dalil yang telah dipadukan (al-Jam'u Bainal Adillah) dari dalil-dalil yang membolehkan puasa pada hari Sabtu dan dalil-dalil yang melarang puasa pada hari itu.

Di antara dalil itu adalah hadis Busr seperti di bawah ini:

Dari Busr as-Sulami dari saudara perempuannya, ash-Shamma' bahwa Rasulullah saw bersabda, "Janganlah kamu berpuasa pada hari Sabtu, kecuali karena diwajibkan kepada kamu. Dan seandainya seseorang di antaramu tidak menemukan kecuali kulit anggur atau bungkal kayu, hendaklah dimamahnya makanan itu!" (HR Ahmad, Ashhaabus Sunan, dan Hakim seraya mengatakan, hadis tesebut shahih menurut syarat Muslim).

Turmudzi mengatakan, hadis tersebut Hasan, seraya berkata: "Dimakruhkan di sini maksudnya ialah jika seseorang mengkhususkan hari Sabtu untuk berpuasa, karena orang-orang Yahudi membesarkan hari Sabtu."

Dari Ummu Salamah dia berkata, "Nabi saw lebih banyak melakukan puasa pada hari-hari Sabtu dan Minggu daripada hari-hari yang lainnya dan beliau bersabda: 'Kedua hari itu merupakan hari besar orang-orang musyrik, maka saya ingin berbeda dengan mereka'." (HR Ahmad, Baihaqi, Hakim dan Ibnu Khuzaimah seraya keduanya yang terakhir ini menyatakan sah.

Berdasarkan bermacam-macam hadis ini, Syekh Albani berpendapat: "Dari sini, maka tampaklah dengan jelas bahwa kedua macam ini membolehkan (puasa hari Sabtu). Maka, jika dilakukan kompromi antara hadis-hadis yang membolehkan dengan hadis ini (hadis yang melarang puasa hari Sabtu), bisa ditarik kesimpulan bahwa hadis ini (yang melarang) lebih didahulukan daripada hadis-hadis yang membolehkan. Demikian juga, sabda Nabi saw kepada Juwairiyah: "Apakah kamu akan berpuasa besok?" dan yang semakna dengan sabda ini adalah dalil yang membolehkan juga, maka tetap lebih mendahulukan hadis yang melarang daripada Sabda Nabi saw kepada Juwairiyah ini."

5. Berpuasa pada Hari yang Diragukan

Dari Ammar bin Yasir ra berkata, "Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukannya, berarti ia telah durhaka kepada Abul Qasim (Muhammad saw)." (HR Ash-Habus Sunan).

Menurut Turmudzi, hadis ini hasan lagi shahih dan menjadi amalan bagi kebanyakan ulama. Hadis itu juga merupakan pendapat Sufyan Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah ibnu Mubarok, Syafi'i, Ahmad, serta Ishak.

Kebanyakan mereka berpendapat, jika hari yang dipuasakannya itu termasuk bulan Ramadhan, hendaklah ia mengqadha satu hari sebagai gantinya. Dan jika ia berpuasa pada hari itu karena kebetulan bertepatan dengan kebiasaannya, maka hukumnya boleh tanpa dimakruhkan.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, "Janganlah kamu mendahului puasa Ramadhan itu dengan sehari dua hari, kecuali jika bertepatan dengan hari yang biasa dipuasakan, maka bolehlah kamu berpuasa pada hari itu." (HR al-Jamaah).

6. Berpuasa Sepanjang Masa

Hal ini berdasarkan hadis:
"Tidaklah berpuasa, orang yang berpuasa sepanjang masa." (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim).

Solusi dari larangan ini adalah hendaknya seseorang berpuasa dengan puasa Daud as, yaitu sehari puasa dan sehari berbuka.

Refeensi:
1. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
2. Tamamul Minnah, Muhammad Nashiruddin al-Albani

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
READ MORE - HARI-HARI YANG DILARANG UNTUK BERPUASA

Wednesday, April 15, 2009

6 Sifat Shahabat

Mudzakarah 6 Sifat Shahabat

Allah SWT meletakkan kesuksesan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat hanyalah pada agama Islam yang sempurna. Agama Islam yang sempurna adalah agama yang dibawa oleh Rasululloh SAW. Meliputi Iman, Ibadah, Muamalah, Muasyarat dan Ahlaq. Pada saat ini umat islam tidak ada kekuatan dan kemampuan untuk mengamalkan agama secara sempurna. Para sahabat RA telah sukses dan jaya dalam mengamalkan agama secara sempurna karena mereka memiliki sifat-sifat dasar yang terkandung dalam enam sifat sahabat yang meliputi, 1. Yakin atas kalimah thoyyibah “laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah” 2. Sholat khusyu’ dan khudlu’ 3. Ilmu ma’adzikir 4. Ikromul Muslimin 5. Tashihun niat 6. Da’wah dan tabligh khuruj fi sabilillah. Enam sifat sahabat RA tersebut bukan merupakan wujud agama yang sempurna, karena agama yang sempurna terkandung dalam al qur’an dan al hadits, tetapi apabila enam sifat para sahabat tersebut ada dalam diri kita maka Allah SWT akan memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkan agama secara sempurna.

1. Yakin atas kalimah thoyyibah “laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah“.
Arti : Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt. Dan Baginda Muhammad Saw. Adalah utusan Allah.
Maksud Laa ilaha illallah
Mengeluarkan keyakinan pada mahluk dari dalam hati dan memasukkan keyakinan hanya kepada Allah Swt. Di dalam hati.
Fadhilah :
1. Barang siapa yang mati sedangkan dia yakin tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt., maka dijamin masuk surga.
2. Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan hatinya membenarkan lisannya, maka dipersilahkan masuk surga dari pintu mana yang dia suka.
3. Sekecil-kecil iman dalam hati maka akan Allah berikan surga yang luasnya 10 kali dunia.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya iman yakin.
2. Latihan dengan cara memperbanyak halaqoh-halaqoh / majlis iman yakin (bicara atau dengar).
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat iman dan yakin.
Maksud Muhammadarrasulullah
Meyakini hanya satu-satunya jalan untuk mencapai kejayaan dunia dan akherat hanya dengan cara ikut sunnah Rasulullah Saw.
Fadhilah :
1. Rasulullah Saw. bersabda, Tidak akan masuk neraka seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Aku (Muhammad) sebagai utusan Allah.
2. Rasulullah Saw. bersabda barang siapa yang berpegang teguh dengan sunnahku dikala rusaknya ummatku maka baginya pahala 100 orang mati syahid.
3. Rasulullah Saw. Bersabda barang siapa menghidupkan sunnahku sungguh dia cinta padaku, dan barangsiapa yang cinta padaku maka akan bersamaku didalam surga.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya menghidupkan sunnah Rasulullah Saw.
2. Latihan , yaitu dengan cara menghidupkan sunnah Rasulullah Saw. Dalam kehidupan kita selama 24 jam.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menghidupkan sunnah.

2. Sholat khusyu’ dan khudlu’
Arti : Shalat dengan konsentrasi batin dan merendahkan diri dengan mengikut cara yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Maksud Shalat Khusu dan Khudu
Membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah Swt didalam shalat kedalam kehidupan sehari-hari.
Fadhilah :
1. Allah berfirman : Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
2. Allah berfirman : Carilah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat.
3. Rasulullah Saw. Bersabda : shalat adalah milahnya orang beriman.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya shalat
2. Latihan dengan cara :
a. Memperbaiki dhahirnya shalat.
b. Menghadirkan keagungan Allah
c. Belajar menyelesaikan masalah dengan shalat
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat shalat khusyu dan khudu.

3. Ilmu ma’adzikir
Arti Ilmu : Semua petunjuk yang dating dari Allah Swt melalui Baginda Rasulullah Saw.
Arti Dzikir: Mengingat Allah sebagaimana agungnya Allah.
Maksud Ilmu ma’adzikir
Mengamalkan perintah Allah Swt. Pada setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan keagungan Allah didalam hati dan ikut cara Rasulullah Saw.
Fadhilah Ilmu:
1. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka akan Allah fahamkan dirinya pada masalah agama.
2. Barangsiapa berjalan mencari ilmu maka akan Allah mudahkan untuknya jalan menuju surga.
3. Barangsiapa mempelajari satu ayat Al Quran maka nilainya adalah lebih baik daripada shalat sunnah 100 rakaat. Barangsiapa mempelajari satu bab dari ilmu maka lebih baik nilainya daripada shalat sunnah 1000 rakaat.
Fadhilah Dzikir:
1. Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dibandingkan dengan orang yang mati.
2. Allah berfirman : Dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.
3. Allah berfirman : Ingatlah pada Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu.
Cara mendapatkan ilmu fadhail :
1. Dakwahkan pentingnya ilmu fadhail
2. Latihan dengan cara :
a. Duduk dalam halaqoh fadhail di masjid dan di rumah.
b. Ajak manusia untuk duduk dalam halaqoh fadhail
c. Hadirkan fadhail dalam setiap amalan .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ilmu fadhail.
Cara mendapatkan ilmu masail :
1. Dakwahkan pentingnya ilmu masail
2. Latihan dengan cara :
a. Duduk dalam halaqoh masail dengan para alim ulama.
b. Bertanya kepada ulama baik untuk masalah agama maupun dunia.
c. Sering berziarah kepada para alim ulama .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ilmu masail.
Cara mendapatkan dzikir :
1. Dakwahkan pentingnya dzikir kepada Allah Swt.
2. Latihan dengan cara :
a. Setiap hari membaca Al Quran (usahakan 1 juz).
b. Membaca tasbihat, shalawat dan istigfar masing-masing 100 X.
Ketika membaca tasbihat maka hadirkan kemahasucian Allah
Ketika membaca shalawat maka ingat jasa-jasa Rasulullah kepada kita.
Ketika membaca istigfar maka hadirkan sifat Maha Pengampunnya Allah.
c. Amalkan doa-doa masnunah (harian) .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat dzikir.

4. Ikromul Muslimin
Arti : Memuliakan sesame orang islam / muslim.
Maksud ikramul muslimin
Menunaikan hak-hak semua orang islam tanpa meminta hak daripadanya.
Fadhilah :
1. Allah akan menolong seorang hamba selagi dia menolong saudaranya.
2. Barang siapa menutup aib saudaranya yang muslim maka Allah akan menutup aibnya dan barang siapa membuka aib saudaranya yang muslim maka Allah akan membuka aibnya sampai dia akan dipermalukan di rumahnya sendiri.
3. Senyummu didepan saudaramu adalah sedekah.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya ikram
2. Latihan dengan cara :
a. Memberi salam kepada orang yang kita kenal ataupun yang tidak kita kenal.
b. Menyayangi yang muda, menghormati yang tua, memuliakan uloama dan menghormati sesama.
c. Berbaur dengan semua orang yang berbeda-beda wataknya.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan ahlaq sebagaimana ahlaq Baginda Rasulullah Saw.

5. Tashihun niat
Arti : Membetulkan / meluruskan niat
Maksud tashihun niat
Membersihkan niat pada setiap amalan semata-mata karena Allah Swt.
Fadhilah :
1. Sesungguhnya Allahtidak akan menerima amalan seseorang kecuali dengan ikhlas.
2. Sesungguhnya Allah tidak memandang pada rupamu dan hartamu tetapi Dia akan memandang pada hatimu dan amalanmu.
3. Baginda Rasulullah Saw. Bersabda : Wahai Muadz jagalah keihklasan karena amal yang ikhlas walau sedikit akan mencukupi.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya ikhlas.
2. Latihan dengan cara : setiap beramal periksa niat kita, sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal, bersihkan niat agar semata-mata hanya karena Allah.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ikhlas dalam beramal.

6. Da’wah dan tabligh khuruj fi sabilillah
Arti : Dakwah mengajak, Tabligh menyampaikan dan khuruj fisabilillah adalah keluar di jalan Allah.
Maksud
1. Memperbaiki diri, yaitu bagaimana agar dapat menggunakan harta diri dan waktu sebagaimana yang diperintahkan Allah.
2. Menghidupkan agama secara sempurna pada diri sendiri dan semua manusia diseluruh alam dengan menggunakan harta dan diri sendiri.
Fadhilah :
1. Allah berfirman : dan adakah yang perkataannya lebih baik daripada seseorang yang mengajak manusia kepada Allah.
2. Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk kebaikan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkan.
3. Sepagi sepetang dijalan Allah lebih baik daripada mendapatkan dunia dan seisinya.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya dakwah dan tabligh.
2. Latihan dengan cara : keluar dijalan Allah minimal 4 bulan seumur hidup, 40 h setiap tahun, 3h setiap bulan dan 2,5 jam setiap hari. Tingkatkan dengan cara bertahap-tahap menjadi 4 bl tiap tahun, 10h tiap bulan dan 8 jam setiap hari.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat dakwah dan tabligh yaitu dapat menggunakan harta, diri dan waktu untuk kepentingan agama.
READ MORE - 6 Sifat Shahabat

Monday, April 6, 2009

waktu terlarang sholat

waktu terlarang sholat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Shafwan bin al-Mu'aththil pernah bertanya kepada Rasulullah saw, 'Wahai Rasulullah, aku ingin bertanya kepadamu tentang suatu perkara yang engkau ketahui dan aku tidak tahu tentangnya.' 'Perkara apa itu?' tanya Rasulullah. la berkata, 'Adakah waktu di siang atau malam hari yang telarang bagi kita untuk mengerjakan shalat?' Rasulullah saw. menjawab, 'Ya ada, jika engkau telah mengerjakan shalat Shubuh, maka janganlah mengerjakan shalat sunnah hingga matahari terbit. Karena matahari terbit di antara dua tanduk syaitan. Setelah itu, silahkan engkau mengerjakan shalat sunnah, karena shalat pada saat itu dihadiri (oleh para Malaikat) dan diterima hingga matahari tepat di atas kepalamu seperti tegak lurusnya tombak. Jika matahari tepat di atas kepalamu, maka janganlah shalat, karena saat itu Jahannam dinyalakan dan pintu-pintunya dibuka. Hingga matahari tergelincir ke arah kananmu (ke arah barat). Jika matahari telah tergelincir, maka silahkan engkau shalat, karena shalat pada saat itu dihadiri (oleh para Malaikat) dan diterima hingga engkau mengerjakan shalat 'Ashar. Kemudian janganlah mengerjakan shalat sunnah hingga matahari terbenam," (Shahih, HR Ibnu Majah [1252], Ibnu Hibban [1452] dan al-Baihaqi [11/ 455]).

Diriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir r.a. ia berkata, "Ada tiga waktu yang Rasulullah saw. melarang kami mengerjakan shalat dan menguburkan jenazah; Ketika matahari terbit hingga benar-benar meninggi, ketika bayangan orang yang berdiri sudah tegak lurus pada waktu tengah hari liingga matahari tergelincir, dan ketika matahari telah condong untuk tenggelam hingga benar-benar tenggelam," (HR Muslim [831]).

Diriwayatkan dari 'Abdullali bin 'Abbas r.a. berkata, "Telah bersaksi kepadaku orang-orang yang dapat kupercaya, termasuk di dalamnya orang yang paling aku percayai, yakni 'Umar bin Khaththab r.a, bahwasanya Rasulullah saw. melarang shalat sunnah sesudah shalat Shubuh hingga matahari terbit dan sesudah shalat 'Ashar hingga matahari terbenam," (HR. Bukhari [581] dan Muslim [826]).

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri r.a. berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Tidak ada shalat sunnah sesudah shalat Shubuh hingga matahari benar-benar meninggi, dan tidak ada shalat sunnah sesudah shalat 'Ashar hingga matahari benar-benar tenggelam’," (HR Bukhari [582] dan Muslim [827]).

Diriwayatkan dari ‘Amr bin 'Abasah r.a. dalam sebuah hadits yang panjang ia berkata, "Wahai Rasulullah, ajarilah aku perkara yang Allah SWT ajarkan kepadamu sedang aku tidak mengetahuinya, ajarilah aku tentang shalat." Rasulullah bersabda, "Kerjakanlah shalat Shubuh, kemudian jangan kerjakan shalat hingga matahari terbit dan meninggi, karena matahari terbit di antara dua tanduk syaitan. Pada saat itu, orang-orang kafir sujud kepadanya. Setelah itu, kerjakanlah shalat sunnah karena shalat pada saat itu disaksikan dan dihadiri (oleh para Malaikat). Hingga bayangan tegak lurus seperti batang tombak. Jangan kerjakan shalat (pada waktu ini), karena pada saat itu, Neraka Jahannam dinyalakan. Jika bayangan telah condong, maka kerjakanlah shalat, karena shalat pada saat itu disaksikan dan dihadiri (oleh para Malaikat). Hingga engkau mengerjakan shalat 'Ashar. Sesudah itu, janganlah shalat hingga matahari terbenam. Karena matahari terbenam di antara dua tanduk syaitan. Pada saat itu, orang-orang kafir sujud kepadanya," (HR Muslim [832]).

Diriwayatkan dari Abu Bashrah al-Ghifari r.a. berkata, "Rasulullah SAW mengimami kami shalat 'Ashar di Mukhammash. Sesudah shalat, beliau bersabda, 'Sesungguhnya, shalat ini telah diwajibkan atas ummat sebelum kalian, akan tetapi mereka menyianyiakannya. Barangsiapa menjaganya, maka ia mendapat pahala dua kali lipat. Dan tidak ada shalat sesudahnya (sesudah shalat ‘Ashar) hingga bintang-bintang terbit’," (HR Muslim [830]).

Diriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Umar r.a. berkata, "Rasulullah bersabda, ‘Jika bulatan matahari mulai muncul, maka tundalah shalat hingga matahari benar-benar meninggi. Jika bulatan matahari mulai tenggelam, maka tundalah shalat hingga matahari benar-benar tenggelam’," (HR Bukhari [583] dan Muslim [829]).

Kandungan Bab:

1. Intinya, hadits-hadits di atas menyebutkan tentang waktu-waktu yang terlarang untuk mengerjakan shalat. Ada lima waktu yang terlarang: Ketika matahari terbit, ketika matahari terbenam, setelah shalat Shubuh, setelah shalat 'Ashar dan ketika matahari tepat berada di atas kepala saat tengah hari.
2. Akan tetapi, larangan shalat setelah shalat Shubuh dan shalat 'Ashar termasuk larangan yang telah dikhususkan oleh dua hadits berikut ini:
1. Hadits 'Ali bin Abi Thalib r.a, bahwasanya Rasulullah saw. melarang shalat setelah 'Ashar kecuali bila matahari masih tinggi, (Shahih, HR Abu Dawud [274], an-Nasa’i [1/280], Ahmad [1/129 dan 141], Ibnu Khuzaimah [1284 dan 1285], Ibnul Jarud [281], ath-Thayalisi [108], Ibnu Hibban [1547] dan [1562], al-Baihaqi [11/459], Abu Ya'la [411] dan [581], Ibnu Abi Syaibah [11/348-349] dan ath-Thahawi dalam Syarah Musykilil Aatsaar [5268-5272]).
2. Hadits Anas bin Malik r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kalian shalat ketika matahari terbit dan terbenam. Karena matahari terbit dan terbenam di antara dua tanduk syaitan. Dan shalatlah pada selain dua waktu tersebut," (Hasan, HR Abu Ya'la [4216] dan al-Bazzar [613]).

Dalam sejumlah buku-buku fiqh, banyak disebutkan tentang larangan mengerjakan shalat sunnah sesudah shalat Shubuh dan 'Ashar secara mutlak. Sampai-sampai sebagian ulama menukil kesepatakan dan ijma' ummat dalam masalah ini. Hujjah mereka adalah hadits-hadits umum di atas tadi. Para pembaca tentu sudah melihat dan menyimak bahwa larangan tersebut telah dikhususkan, bahwa yang dilarang adalah mengerjakan shalat pada saat matahari terbit dan terbenam.

Abul Fath al-Ya'mari telah menukil dari sejumlah ulama Salaf, seperti yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (0/61-62), mereka berkata, "Larangan mengerjakan shalat sesudah shalat Shubuh dan shalat 'Ashar sebenarnya untuk menjelaskan bahwa setelah shalat Shubuh dan shalat 'Ashar tidak ada shalat sunnah. Maksudnya bukan seperti larangan mengerja-kan shalat saat matahari terbit atau terbenam. Hal ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa’i dengan sanad hasan, dari Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda, ‘Janganlah mengerjakan shalat setelah shalat Shubuh dan 'Ashar, kecuali bila matahari masih terang sinarnya’,”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Kecuali bila matahari masih tinggi.”

Jadi jelaslah, maksudnya bukan larangan mengerjakan shalat setelah shalat Shubuh atau shalat 'Ashar secara mutlak. Namun, maksudnya adalah larangan mengerjakan shalat pada waktu terbit atau terbenam matahari, atau mendekati kedua waktu tersebut, wallaabu a'lam."

Saya katakan, "Inilah pendapat yang mesti diambil dan dijadikan pegangan dalam masalah yang diperselisihkan ini. Jika engkau memang termasuk orang yang Allah sejukkan hatinya dengan keteduhan ittiba' (mengikut Sunnah Nabi), dan memperoleh kebahagiaan dengan keyakinan yang mantap, janganlah terperdaya dengan klaim ijma’ dalam masalah ini, kepopuleran pendapat dan banyaknya. Terlebih lagi bila bertentangan dengan Sunnah Nabawiyyah yang jelas lagi shahih."

Catatan penting 1:

Al-Baihaqi mengeluarkan komentar atas hadits ‘Ali r.a. yang perlu diluruskan agar masalah ini tidak menjadi rancu di benak para pembaca:
1. Al-Baihaqi berkata (11/459), "Meskipun Abu Dawud as-Sijistani telah meriwayatkannya dalam kitab Sunannya, namun hadits ini tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim."

Saya katakan, "Tidak menjadi syarat shahih, hadits tersebut harus terdapat dalam kitab Bukhari dan Muslim.”
2. Al-Baihaqi berkata, "Wahb bin al-Ajda’ tidak memenuhi kriteria perawi yang dipakai oleh Bukhari dan Muslim."

Saya katakan, "Wahb bin al-Ajda' adalah seorang tabi'in yang tsiqah lagi masyhur seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (111/31). Apakah tennasuk syarat shahih hadits tersebut harus sesuai dengan kriteria Bukhari dan Muslim? Bukankah Bukhari dan Muslim sendiri telah menshahihkan banyak hadits yang tidak terdapat dalam kitab shahih mereka berdua?"
3. Al-Baihaqi berkata, "Ini hanyalah hadits dari seorang perawi saja, sementara hadits-hadits tentang larangan mengerjakan shalat sunnah sesudah shalat 'Ashar sampai terbenam matahari diriwayatkan oleh banyak perawi, hadits-hadits tersebut tentu lebih layak diambil."

Saya katakan, Jawabannya dari beberapa sisi:

Pertama: Kedua hadits tersebut shahih dan dapat diambil. Tidak ada pertentangan antara keduanya hingga kita harus memilih salah satunya karena jumlah perawinya lebih banyak. Karena hadits berisi larangan mengerjakan shalat sunnah setelah 'Ashar adalah hadits mutlak yang dibatasi pengertiannya oleh hadits 'Ali r.a.

Kedua: Hadits 'Ali tidaklah bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi-perawi lainnya. Bahkan, di dalamnya terdapat tambahan dari perawi tsiqah yang harus diambil dan tidak boleh dibuang. Karena dalam hadits 'Ali terdapat maklumat tambahan. Dan orang yang mengetahui menjadi hujjah atas orang yang tidak mengetahui.

Ketiga: Hadits 'Ali bukanlah hadits dari seorang perawi saja, bahkan ada dua hadits yang menguatkannya sebagaimana yang telah dijelaskan dahulu, yakni hadits Anas bin Malik dan Bilal r.a.
4. Al-Baihaqi berkata, "Telah diriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib r.a. sebuah hadits yang bertentangan dengan hadits tersebut, dan ada pula hadits yang mendukungnya. Adapun hadits yang bertentangan dengan-nya -lalu ia menyebutkan sanadnya sampai kepada 'Ali r.a. bahwa beliau berkata, 'Rasulullah saw. biasa mengerjakan shalat sunnah dua raka'at selepas shalat maktubah. kecuali (setelah) shalat Shubuh dan shalat 'Ashar’.”

Adapun hadits yang mendukungnya, lalu ia menyebutkan sanadnya sampai kepada 'Ashim bin Dhamrah ia berkata, "Kami bersama 'Ali r.a. dalam sebuah perjalanan. Beliau mengimami kami shalat 'Ashar dua raka'at, kemudian aku saksikan beliau masuk ke dalam kemahnya kemudian mengerjakan shalat dua raka'at."

Al-Baihaqi berkata, "Imam asy-Syafi'i telah meriwayatkan ketiga hadits ini dari 'Ali bin Abi Thalib r.a., kemudian beliau berkata, ‘Hadits-hadits ini bertentangan satu sama lain’."

Kemudian al-Baihaqi berkata, "Maka dari itu kita wajib mengikuti hadits yang terlepas dari kontroversi. Larangan tersebut khusus bagi shalat-shalat yang tidak memiliki sebab. Adapun shalat-shalat yang memiliki sebab tertentu dikecualikan dari larangan tersebut berdasarkan hadits Ummu Salamah, wallaahu a'lam"

Saya katakan, "Hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, dari jalur Sufyan, dari Abu Ishaq, dari 'Ashim bin Dhamrah, dari 'Ali bin Abi Thalib r.a, ia berkata, 'Rasulullah biasa mengerjakan shalat sunnah dua raka'at selepas shalat maktubah kecuali shalat Shubuh dan 'Ashar,’ tidaklah bertentangan dengan hadits 'Ali yang lain yang berbunyi, Rasulullah saw. melarang mengerjakan shalat sunnah sesudah shalat 'Ashar, kecuali bila matahari masih tinggi' dari beberapa sisi berikut ini:

Pertama: Karena hadits tersebut menunjukkan bolehnya shalat setelah 'Ashar selama matahari belum mulai terbenam hingga benar-benar terbenam. Sementara hadits yang pertama menafikan bahwa Rasulullah saw. pernah mengerjakan dua raka'at sunnah setelah shalat 'Ashar.

Kedua: Sudah barang tentu, tidak semua perkara yang dibolehkan berdasarkan dalil syar'i pasti dilakukan oleh Rasulullah saw.

Ketiga: 'Ali r.a. mengabarkan sebatas yang beliau ketahui. Karena telah diriwayatkan dari Ummul Mukminin 'Aisyah dan Ummu Salamah r.a, bahwa Rastdullah saw. mengerjakan shalat dua raka'at setelah 'Ashar. Dua raka'at tersebut adalah shalat sunnah ba'diyah Zhuhur.

'Aisyah r.a. mengabarkan bahwa Rasulullah saw. rutin mengerjakannya dan terus mengerjakannya setelah itu. Berarti, kedua hadits tersebut saling bersesuaian dan tidak saling bertentangan, alhamdulillaah sebelum dan sesudahnya.

Ucapan al-Baihaqi, "Adapun hadits yang mendukungnya" kemudian ia membawakan sanad dari jalur Syu'bah, dari Abu Ishaq, dari 'Ashim bin Dhamrah, ia berkata: "Suatu ketika kami bersama 'Ali bin Abi Thalib dalam sebuah' perjalanan. Beliau mengimami kami shalat ‘Ashar. Kemudian aku saksikan beliau masuk ke dalam kemahnya dan mengerjakan shalat dua raka'at."

Ini merupakan perbuatan 'Ali bin Abi Thalib r.a. yang sesuai dengan riwayatnya. Oleh karena, itu ikhtilaf (pertentangan) ketiga hadits ini yang dinukil al-Baihaqi dari asy-Syafi'i tidak dapat dianggap benar. Sesungguhnya, di atas orang yang alim ada lagi yang lebih alim.

Dan ucapan al-Baihaqi, "Maka dari itu, kita wajib mengikuti hadits yang terlepas dari kontroversi."

Saya katakan, "Klaimnya, bahwa tidak ada perbedaan pendapat atau kontroversi dalam masalah ini tidak diterima begitu saja. Karena sebagian ulama berpendapat, mutlak terlarang mengerjakan shalat sunnah setelah Shubuh dan 'Ashar, baik memiliki sebab maupun tidak. Ulama Ash-haabur Ra'-yi berpendapat, Tidak boleh mengerjakan shalat apa pun pada waktu-waktu tersebut, baik shalat fardhu maupun lairmya. Kecuali mengerjakan shalat 'Ashar hari itu saat matahari terbenam.'

Kemudian al-Baihaqi berusaha mengkhususkan hadits tersebut. Hal itu harus ia lakukan, akan tetapi mengkhususkannya dengan hadits-hadits berisi larangan mengerjakan shalat pada saat terbit dan terbenam matahari tentu lebih tepat. Karena hadits tersebut berkaitan langsung dengan masalah ini (yakni tentang waktu-waktu yang terlarang mengerjakan shalat,'Pent-). Berbeda halnya dengan apa yang dilakukan oleh al-Baihaqi. Dalil-dalil yang dipakainya itu hanyalah tambahan bagi nash-nash yang berkaitan langsung dengan masalah ini. Terlebih lagi tidak ada pertentangan antara hadits-hadits 'Ali dan hadits-hadits lainnya.

Catatan penting 2 :

Adapun yang diriwayatkan dari 'Umar r.a, bahwa ia melarang 'Ali bin Abi Thalib mengerjakan shalat setelah shalat 'Ashar, 'Umar mengingatkan bahwa sebenarnya 'Ali tahu larangan Rasulullah saw. dalam masalah ini.

Abu Ja'far ath-Thahawi memberikan jawaban yang cukup tuntas terhadap riwayat ini dalam kitab Syarah Musykilil Aatsaar (XIII/290), ia berkata, "Dalam riwayat ini disebutkan bahwa 'Umar telah mengingatkan 'Ali tentang masalah tersebut. Yakni, 'Ali mengetahui larangan mengerjakan shalat sesudah shalat 'Ashar. Dan 'Umar tidaklah mengatakannya melainkan beliau juga mengetahui larangan Rasulullah tersebut. Apalagi 'Ali tidak membantah ucapan 'Umar. Apakah hal itu bertentangan dengan hadits Wahb bin al-Ajda' dari 'Ali ataukah tidak?"

Jawaban kami terhadap permasalahan di atas adalah sebagai berikut -dengan taufiq dan pertolongan Allah-, "Menurut pandangan kami, hadits Wahb dan hadits Ibnu Darraj di atas tidaklah saling bertentangan, wallaahu a'lam. Sebab, kemungkinan 'Ali r.a. shalat ketika matahari menurutnya masih tinggi, Rasulullah masih membolehkan shalat pada ketinggian matahari seperti itu. Sementara menurut 'Umar sudah tidak boleh lagi. Jadi, keduanya berselisih tentang ketinggian matahari yang masih dibolehkan shalat. Penyebab perselisihan keduanya bukanlah dalam masalah larangan mengerjakan shalat setelah 'Ashar yang diketahui 'Ali r.a. dari Rasulullah saw. Sebab, adakalanya sebagian orang memahami ketinggian matahari tersebut tidak seperti yang dipahami oleh sebagian lainnya yang sama-sama mendengar hadits tersebut."

Catatan penting 3:

Telah diriwayatkan dari 'Aisyah r.a, sebuah riwayat yang selaras dengan hadits Ali r.a, Yakni yang diriwayatkan oleh al-Miqdam bin Syuraih, dari ayahnya, ia berkata, "Aku bertanya kepada 'Aisyah, 'Apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Sepertinya yang beliau maksud adalah apa yang beliau lakukan sesudah mengerjakan shalat Zhuhur dan shalat 'Ashar. 'Aisyah r.a. menjawab, ‘Beliau mengerjakan shalat Zhuhur, kemudian mengerjakan shalat sunnah dua raka'at sesudahnya. Setelah itu beliau mengerjakan shalat 'Ashar, kemudian mengerjakan shalat sunnah dua raka'at sesudahnya.’ Ayahku berkata lagi, 'Sungguh aku melihat 'Umar r.a. memukul seorang laki-laki yang beliau temui mengerjakan shalat sunnah dua raka'at setelah shalat 'Ashar.’

'Aisyah menjawab, "Umar sendiri pernah mengerjakannya dan ia juga tahu Rasulullah saw. telah mengerjakannya. Akan tetapi kaummu, penduduk Yaman adalah kaum yang bodoh. Apabila mereka telah mengerjakan shalat Zhuhur, maka mereka akan mengerjakan shalat sunnah sesudahnya sampai 'Ashar. Dan apabila mereka telah mengerjakan shalat 'Ashar, maka mereka akan mengerjakan shalat sunnah sesudahnya sampai Maghrib. Sungguh tepat apa yang dilakukan 'Umar itu’," (Shahih, HR Ahmad ]VI/254] dan ath-Thahawi dalam Syarah Musykilil Atsaar [5283]).

Ath-Thahawi mengatakan (XIII/296), "Hadits ini mengisyaratkan bahwa apa yang dipahami 'Aisyah tentang larangan mengerjakan shalat sunnah setelah 'Ashar sama seperti apa yang dipahami oleh 'Ali bin Abi Thalib r.a."

Dengan perincian di atas, menjadi jelaslah maksud larangan menyengaja shalat pada saat matahari terbit dan terbenam. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadks Ibnu 'Umar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah salah seorang dari kamu menyengaja shalat ketika matahari terbit dan terbenam," (HR Bukhari [585]).

Dan hadits 'Aisyah r.a, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian mencari-cari waktu terbit dan terbenam matahari lalu mengerjakan shalat pada waktu tersebut," (HR Muslim [833]).
3. Rasulullah saw. telah menyebutkan alasan larangan shalat pada saat matahari terbit dan terbenam, yakni disebabkan matahari terbit dan terbenam di antara dua tanduk syaitan, pada saat itulah orang-orang kafir sujud kepada matahari. Dan Rasulullah saw. menyebutkan alasan larangan mengerjakan shalat pada saat matahari tepat di atas kepala, yaitu karena pada waktu tersebut, Neraka Jahannam dinyalakan dan dibuka pintu-pintunya.

Sungguh keliru al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (11/60) karena menukil perkataan al-Baghawi yang menyatakan bahwa larangan tersebut termasuk masalah ta'abbudiyyah mutlak yang tidak dapat diketahui makna dan alasannya.

Saya katakan, "Al-Baghawi tidak menggolongkan larangan tersebut ke dalam bab ta'abbudiyyah mutlak, namun menggolongkannya termasuk bab ta'lil nabawi (penyebutan 'illat) yang tidak diketahui hakikatnya. Sebab, termasuk pengabaran perkara ghaib. Beliau berkata dalam kitab Syarhus Sunnah (III/330), "Rasulullah saw. telah menyebutkan 'illat larangan shalat saat matahari terbit dan terbenam dalam hadits 'Amr bin 'Abasah, yakni disebabkan matahari pada saat itu berada di antara dua tanduk syaitan. Dan Rasulullah saw. juga menyebutkan larangan shalat pada saat tengah hari, karena pada saat itu Neraka Jahannam dinyalakan dan dibuka pintu-pintunya.

Illat seperti ini dan sejenisnya tidak dapat diketahui hakikat maknanya. Kewajiban kita hanyalah mengimaninya dan membenarkannya serta tidak membahasnya terlalu dalam. Kemudian, kita wajib memegang teguh hukum-hukum yang berkaitan dengannya."

Sebagian ulama ada yang membolehkan shalat pada waktu tengah hari di hari Jum'at. Mereka menyebutkan beberapa hadits dha'if, misalnya hadits Abu Qatadah dari Rasulullah saw, bahwa beliau membenci shalat pada waktu tengah hari kecuali hari Jum'at. Karena Neraka Jahannam dinyalakan setiap hari pada saat itu, kecuali hari Jum'at," (Dhaif, HR Abu Dawud [1083] dan al-Baihaqi [11/464]).

Inilah. pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hanya saja sandaran beliau bukanlah hadits dha'if di atas, namun yang menjadi sandaran beliau adalah siapa saja yang menghadiri shalat Jum'at, dianjurkan agar mengerjakan shalat sunnah hingga khathib/imam keluar. Oleh sebab itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan dalam kitab Zaadul Ma 'aad (1/378-388), Itulah pendapat yang dipilih oleh guru kami, Abul 'Abbas Ibnu Taimiyyah, sandaran beliau bukanlah hadits yang diriwayatkan oleh Laits, dari Mujaahid, dari Abul Khalil, dari Abu Qatadah, dari Rasulullah saw. Namun, sandaran beliau adalah siapa saja yang menghadiri shalat Jum'at, dianjurkan agar mengerjakan shalat sunnah hingga khathib/imam keluar. Dalam hadits shahih disebutkan, "Tidaklah seorang lelaki mandi pada hari Jum'at, lalu bersuci sebersih-bersihnya, meminyaki rambut atau memakai wewangian yang dimilikinya, kemudian berangkat (ke masjid) dan tidak menceraiberaikan shaf, kemudian ia mengerjakan shalat sunnah yang mampu ia kerjakan, kemudian ia diam apabila imam telah memulai khutbah, melainkan akan diampuni dosanya antara Jum'at ke Jum'at berikutnya," (HR Bukhari).

Oleh sebab itu sejumlah Salaf, di antaranya 'Umar bin al-Khaththab r.a. dan diikuti oleh Ahmad bin Hanbal menyatakan, "Keluarnya imam berarti larangan shalat, dan khutbahnya berarti larangan berbicara."

Penyebab larangan shalat menurut mereka adalah keluarnya imam, bukan karena waktu itu adalah tengah hari.
4. Barangsiapa mendapati satu raka'at shalat Shubuh atau shalat 'Ashar sebelum matahari terbit atau terbenam, maka ia telah mendapati shalat (pada waktunya). Hendaklah ia menyempurnakan shalatnya karena ia telah mendapati waktunya. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa mendapati satu raka'at shalat Shubuh sebelum matahari terbit, berarti ia telah mendapati shalat Shubuh (pada waktunya). Dan barangsiapa mendapati satu raka'at shalat 'Ashar sebelum matahari terbenam berarti ia telah mendapati shalat 'Ashar (pada waktunya)," (HR Bukhari [579] dan Muslim [609]).

Jadi, jelaslah bahwa larangan mengerjakan shalat pada waktu matahari terbit dan terbenam khusus bagi shalat-shalat sunnah, bukan shalat fardhu pada hari itu, wallaahu a'lam. Barangsiapa mengklaim bahwa hadits-hadits larangan tersebut menghapus hukum hadits Abu Hurairah di atas dan hadits-hadits lain yang khusus seperti hadits 'Ali yang baru lalu, maka pendapatnya itu sungguh keliru. Karena makna umum sebuah dalil tidak dapat menghapus makna khusus dalil lain, sebagaimana makna mutlak tidak dapat menghapus makna muqayyad. Akan tetapi, makna umum dan makna mutlak tersebut dibawakan kepada makna khusus dan makna muqayyad. Dan tidak syak lagi, takhshish atau taqyid (yakni mengkhususkan makna umum dan membatasi makna mutlak) lebih baik daripada menasakhkannya, wallaa.hu a'lam.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 1/353-364.
READ MORE - waktu terlarang sholat